selamat membaca, berikut ini saya membahas tentang perbedaan-perbedaan teori yang terdapat dalam psikologi kepribadian.
1. Teori Humanistik
Tokoh
: Maslow dan Rogers
Teori humanistik ini sering disebut kekuatan ketiga
dari psikologi. Teori ini memiliki pandangan psikologis bahwa manusia memiliki
kecenderungan bawaan untuk memperbaiki dan menentukan hidup mereka melalui
keputusan yang dia buat. Meskipun awalnya teori ini berakar pada filsafat,
tetapi sejak tahun 1950-an teori ini menjadi teori psikologi. Teori ini sulit
untuk bersatu dan didefinisikan secara lengkap karna begitu banyaknya ide-ide
yang mendasari teori ini. Karena itu kali ini kita akan membahas pandangan Carl
Rogers dan Abraham Maslow.
- Inner-Directedness
dan Subjektifitas
Para humanis
percaya bahwa manusia memiliki kekuatan internal, inner-directedness, yang
mendorong mereka untuk tumbuh, memperbaiki diri, dan untuk menjadi
individu terbaik. Manusia memiliki kebebasan untuk membuat pilihan dan pada umumnya,
cukup bagus membuat pilihan cerdas yang
meningkatkan pertumbuhan pribadi mereka. Inner-directedness ini merupakan
kekuatan utama dalam perkembangan kepribadian. Jelas bahwa kaum humanis
memiliki pandangan positif terhadap manusia, tetapi mereka sadar bahwa hidup
adalah perjuangan untuk semua orang pada suatu titik tertentu dan banyak orang
secara tidak sadar membuat kekacauan di hidup mereka. Kita kehilangan kemampuan
kita untuk memilih pilihan yang baik bila kita hidup secara kritis, menolak
orang atau berusaha menjadi orang lain karna tuntuan orang lain. Kepribadian
yang berkembang hanya dapat dimengerti dengan perspektif dari arah dalam ke
luar. Bagi kaum humanis satu-satunya realitas adalah realitas subjektif.
- Konsep
Diri Sendiri
Konsep diri
kita adalah persepsi subjektif kita tentang siapa kita dan seperti apa kita.
Dari semua pandangan subjektif kita tentang hidup, pandangan tentang diri
sendiri adalah yang paling utama. Konsep diri dipelajari dari interaksi kita
dengan orang lain. Masalah psikologis muncul dari 3 jenis diri: Pertama
perbedaan yang berlebihan antara diri sendiri yaitu pengalaman kita dan diri
ideal yaitu diri yang ingin kita capai. Perbedaan yang terlalu jauh menyebabkan
ketidaknyamanan atau ketidakselarasan. Kedua, konsep diri yang kurang akurat
juga dapat menyebabkan masalah. Jika pandangan kita tentang diri kita tidak
cukup kongruen maka kita akan mengembangkan pandangan yang tidak jelas tentang
diri kita sendiri. Ketiga, manusia juga menolak kesadaran akan beberapa
pengalaman yang merupakan reaksi orang tua dan masyarakat terhadap perilaku
kita.
Dengan
bereaksi memperingatkan dan mamuji beberapa tindakan kita, seperti meminjamkan
mainan kepada saudara kita, dan memberi hukuman jika kita menyubit saudara
kita. Reaksi orang tua terhadap perilaku kita membuat kita belajar tentang apa
yang layak atau tidak layak dilakukan. Konsep Rogers tentang perasaan yang
bersifat tidak simbolik mirip dengan cara pandang Freud tentang perasaan
tertekan. Keduanya dapat terus mempengaruhi orang tersebut.
- Aktualisasi
Diri
Menurut Maslow
merupakan hasil penuh yang jarang dicapai dari diri terdalam manusia untuk
tumbuh, meningkatkan dan menggunakan
potensi mereka sepenuhnya. Berikut ini adalah orang yang mengaktualisasikan
diri menurut Maslow:
- Orang
yang mencapai aktualisasi diri telah mencapai tingkat perkembangan moral
yang tinggi dan lebih peduli tentang kesejahteraan teman dan orang lain
dibandingkan diri sendiri.
- Orang-
orang ini lebih mementingkan kesejahteraan orang lain tapi tidak
bergantung pada persetujuan mereka. Mereka jujur, terbuka dan memiliki
keberanian untuk memilih apa yang menjadi pilihan mereka, bahkan jika itu
berarti tidak populer.
- Mereka
mimiliki pandangan yang akurat, daripada meromantisir, tentang orang atau
hidup, namun mereka positif tentang kehidupan.
- Hidup
selalu menantang dan segar bagi orang yang mengaktualisasikan diri. Mereka
spontan dan alami dalam tindakan dan perasaan mereka.
2.
Teori
psikoanalisis
·
Teori
yang Berasal dari Psikoanalisis
Pemikiran
psikoanalitik terus memainkan peran dalam psikologi, tetapi sebagian besar
melalui teori kepribadian Freud yang telah diubah. Beberapa
psikolog modern mengikuti psikoanalisis ortodoks-nya Freud, tetapi lebih mendukung versi
yang lebih baru yang tumbuh dari pemikiran Freudian. Masing-masing
revisi psikoanalisis ini berbeda dari yang lain dalam beberapa hal, tetapi
mereka berbagi pandangan bahwa Freud menempatkan terlalu banyak penekanan pada
motivasi seksual tidak sadar, suatu agresi, memberi terlalu sedikit tentang hal
yang penting untuk aspek positif dari kepribadian, dan menekankan pentingnya
hubungan sosial yang memadai dan sangat merugikan wanita.
v Carl Jung
Carl jung adalah seorang dokter muda yang bekerja di rumah sakit jiwa di Swisterland. Ketika dia membaca karya Freud tentang interpretasi mimpi, Jung mulai bergabung dengan lingkaran pengikut Freud sebagai anggota yang berpengaruh. Jung menerbitkan sejumlah karya yang menggunakan ide-ide Freud untuk menjelaskan aspek penyakit mental yang berat, tetapi secara bertahap Jung datang untuk mempertanyakan penekanan freud pada motivasi seksual. Akhirnya, pendapat yang berbeda ini menyebabkan putusnya hubungan pribadi dan profesional mereka.
Jung merasa bahwa Freud mengambil pandangan negatif satu sisi tentang sifat manusia, meskipun Jung setuju bahwa pikiran bawah sadar mengandung kekuatan egois, ia percaya bahwa pikiran itu juga mengandung motivasi positif, bahkan spiritual. Pada kenyataannya, karakteristik mendasar dari pikiran manusia menurut Jung adalah bahwa semua elemen penting dari pikiran datang dalam bentuk yang berlawanan. Kita memiliki potensi untuk menjadi baik dan jahat, feminin dan maskulin, ibu dan ayah. Pertanyaannya adalah seberapa banyak dari masing-masing yang kita wujudkan dalam kepribadian kita.
Di antara kontribusi yang paling asli dan abadi untuk pemahaman kepribadian adalah konsep extraversi dan interversi. Kita masing-masing memiliki keinginan untuk bersikap ramah, terbuka terhadap hal-hal yang terjadi di dunia, dan khawatir tentang orang lain (extraversi), tetapi masing-masing dari kita juga memiliki kecenderungan untuk memusatkan perhatian kita pada diri kita sendiri, menjadi pemalu, dan untuk memenuhi kebutuhan sendiri (introversi). Kita seharusnya tidak terlalu introvert atau terlalu banyak extravert.
Jung juga memodifikasi pandangan Freud tentang ketidaksadaran. Dia merasa bahwa kita memiliki ketidaksadaran pribadi dan ketidaksadaran kolektif. Ketidaksadaran pribadi (the personal unconscious) mengandung motivasi, konflik, dan informasi yang telah kita tekankan ke dalam ketidaksadaran bawah sadar karena mengancam bagi kita. Sedangkan ketidaksadaran kolektif adalah pikiran bawah sadar yang digunakan sejak semua manusia dilahirkan. Dia menggunakan istilah kolektif untuk menekankan bahwa isinya sama untuk semua manusia. Banyak dari karirnya di kemudian hari dikhususkan untuk memadukan minatnya dalam psikologi dengan minat masa kecilnya dalam budaya deferen. Dia mengumpulkan bukti untuk menyatakan bahwa setiap kebudayaan mengekspresikan motivasi bawah sadar yang sama dalam banyak hal dengan cara simbol yang sama. Misalnya, dalam pandangan Jung, simbol seksual lingga (penis) telah muncul di banyak kebudayaan sepanjang sejarah dalam bentuk kutub totem, tongkat yang dipegang oleh raja untuk melambangkan otoritas, dan struktur seperti Monumen Washington.
v
Alfred
Adler
Dia setuju
dengan Freud bahwa perjuangan untuk mengatasi satu dorongan seksual dan
permusuhan penting untuk perkembangan kepribadian, tetapi tidak menjadi faktor
yang terpenting. Pada karir awalnya, Adler merasa bahwa perjuangan utama dalam
perkembangan kepribadian adalah usaha untuk mengatasi feeling of inferiority dalam
hubungan sosial dan untuk mengembangkan perasaan keunggulan atau kebanggaan.
Pertama, dia membatasi pandangan ini untuk setiap individu yang dilahirkan
dengan fisik yang cacat, seperti Adler dahulu, tetapi kemudian dia
mengembangkan pandangan untuk memasukkan individu dengan fisik yang normal. Karena kita semua bergantung pada perlindungan
orang dewasa sebagai anak-anak. Kita semua memulai hidup dengan perasaan rendah
diri dalam arti tertentu. Tugas perkembangan pribadi menurut Adler sendiri,
adalah untuk mengatasi rendah diri ketika kecil dan untuk melihat diri kita
sendiri sebagai kompeten dalam proses krusial ini ia mencurahkan waktunya untuk
pengembangan.
Kemudian di karirnya, Adler menekankan pentingnya berjuang untuk mengatasi perasaan rendah diri pada masa kecil. Faktanya, dia berfikir bahwa usaha untuk mencapai perasaan superioritas atas individu lain adalah motif yang tidak sehat. Sebagai gantinya, ia memfokuskan pada dua faktor lain yang menjadi elemen yang lebih penting dalam pengembangan kepribadian. Pertama, Adler merasa bahwa semua manusia lahir dengan motif postif, penarikan sosial, untuk membangun cinta, dan membantu hubungan dengan orang lain. Perkembangan penuh dari kepribadian yang sehat mengharuskan individu belajar untuk mengekspresikan motif ini sepenuhnya ada dalam hubungan mereka dengan yang lain. Ini berbeda dengan keyakinan Freud bahwa hanya motif egois yang lahir. Kedua, Adler percaya bahwa orang hidup diatur oleh tujuan mereka sendiri. Sering kali tujuan ini tidak realistis, tetapi mereka mengatur aksi kita selalu. Seperti yang kita perjuangkan untuk mendapatkan mereka. Adler menekankan pada tujuan, dengan memberi arti penting bagi fungsi kognisi ego, juga sangat berlawanan dengan pendekatan Freud.
v Karen Horney
Seperti Jung dan Alder, meskipun, Horney merasa bahwa pemikiran Freud penting untuk konflik seksual. Bahkan, dia percaya bahwa Konflik bukanlah hasil tak terelakkan dari motif bawaan di dalam id. Dia malah pecaya bahwa konflik berkembang hanya sebagai hasil tidak memadai untuk membesarkan pengalaman anak. Jika anak-anak merasa dicintai dan dilindungi, tidak akan ada konflik yang berkembang, dan aspek postif dari kepribadian akan mendominasi. Jika meskipun, anak-anak kehilangan kepercayaan dalam cinta orang tua (karena orang tua bersikap acuh tak acuh, keras, terlalu protektif, dan alasan lain) anak-anak menjadi tidak percaya diri. Dan ketidakpercaya dirian ini sumber dari semua konflik selanjutnya. Contohnya, individu yang tidak percaya diri dapat mengembangkan kebutuhan untuk menjadi sempurna dan merasa tersiksa oleh semua pernyataan bahwa dia tidak sempurna. Ketidakpercayaan diri yang lain mungkin anak menjauhkan kasih sayang orang lain karena takut bahwa mereka juga tidak akan mencintainya, tetapi mendorong orang lain bertentangan dengan kebutuhan mendasar untuk dicintai.
Horney juga sebagai kritikus penting pandangan Freud tentang wanita. Dia menolak gagasan Freud bahwa iri pada penis adalah fitur utama dari susunan psikologis feminin. dia merasa bahwa masalahnya bukanlah iri pada penis atau maskulinitas semata tetapi dari kekuatan dan hak istimewa dari peran laki-laki dalam masyarakat. Kebanyakan psikolog psikoanalitik kontemporer terus merevisi teori-teori Freud dalam banyak arah yang sama. Mereka merevisi pandangan Freud tentang wanita, menekankan pentingnya motif seksual dan agresif, menekankan aspek-aspek positif dari kepribadian, dan menegaskan pentingnya hubungan sosial yang memadai.
3. Teori Social Learning : Albert Bandura
Pandangan pembelajaran sosial tentang kepribadian sangat berbeda dari kepribadian psikoanalis. Sedikit atau tidak ada perhatian yang diberikan kepada topik-topik seperti naluri, akal bawah sadar, atau tahap perkembangan yang sangat penting untuk psikoanalisis. Sebaliknya, teori pembelajaran sosial fokus pada proses psikologis yang sebagian besar diabaikan oleh psikoanalis. Bagi ahli teori pembelajaran sosial, kepribadian hanyalah sesuatu yang dipelajari, itu adalah jumlah total dari semua cara yang telah kita pelajari untuk bertindak, berpikir, dan rasakan. karena kepribadian dipelajari dari orang lain di masyarakat, istilah pembelajaran sosial digunakan.
· Peran Belajar dalam Kepribadian
Teori social learning memiliki asal-usulnya dalam tulisan-tulisan tingkah laku Ivan Pavlov, John B. Watson, dan B.F Skinner. Masing-masing teori ini berpendapat bahwa kepribadian tidak lebih dari perilaku yang dipelajari dan bahwa cara untuk memahami kepribadian hanyalah untuk memahami keaktifan pembelajaran. Bagi para ahli teori social learning, konsep-konsep kunci dalam studi tentang kepribadian bukanlah id, ego, dan superego, tetapi pengkondisian klasik, pengkondisian operan, dan pemodelan.
Pada pandangan social learning, seseorang mengembangkan kepribadian yang memadai jika dia terkena model yang baik dan diperkuat untuk perilaku yang sesuai. Sebaliknya, jika lingkungan tidak memadai, akan menghasilkan perkembangan kepribadian yang tidak memadai. Tokoh dari social learning ini adalah Albert Bandura. Di satu sisi, pandangan Bandura ini mirip dengan padangan behavioristic (Watson dan Skinner). Dia setuju dengan pendangan bahwa kepribadian adalah jumlah total dari semua tingkah laku yang kita pelajari. Namun, ia melanggar behaviorisme tradisional dalam dua cara utama :
§ Dia melihat orang-orang memainkan peran aktif dalam menentukan tindakan mereka sendiri, bukannya secara pasif yang ditentukan oleh lingkungan belajar.
§ Dia menekankan pentingnya kognisi dalam kepribadian.
Dia menggambarkan kita sebagai pemain yang memainkan peran aktif dalam kehidupan kita sendiri dengan menyatakan bahwa social learning adalah contoh penentuan timbal balik; maksudnya, tidak hanya perilaku seseorang yang dipelajari tetapi lingkungan social learning diubah oleh perilaku orang tersebut. Lingkungan tempat kita belajar, bagaimana pun juga terdiri dari berbagai orang. Jika kita bersikap kaku, ramah, dan tidak menyenangkan terhadap mereka, orang-orang itu akan bersikap/berperilaku berbeda terhadap kita dan akan mengajarkan kita tentang hal-hal yang berbeda mengenai hubungan sosial. Orang-orang yang bersikap agresif dan terlalu percaya diri akan belajar bahwa dunia ini adalah tempat yang sangat dingin. Orang yang ramah akan belajar bahwa dunia ini adalah tempat yang hangat dan penuh kasih. Kepribadian bukan hanya pembelajaran tentang tingkah laku, tetapi tingkah laku juga sebagai pengaruh untuk pengalaman belajar di masa depan.
· Peran Kognisi dalam Kepribadian
Menurut teori social learning, kognisi belajar adalah penentu utama kita untuk menentukan tingkah laku. Orang yang percaya bahwa membantu orang hanya akan membuat mereka kurang mandiri akan menjadi orang yang pelit terhadap yang membutuhkan; orang yang berpikir bahwa dia adalah orang yang membosankan akan bertingkah pendiam dan pemalu.
Bandura menempatkan penekanan khusus pada peran yang dimainkan kognisi kita tentang kemampuan kita untuk menangani tuntutan hidup. Self-efficacy adalah persepsi bahwa seseorang mampu melakukan apa yang diperlukan untuk mencapai satu tujuan, baik dalam arti mengetahui apa yang harus dilakukan dan mampu dilakukan secara emosional. Orang yang menganggap diri mereka sendiri mampu untuk menerima tantangan yang lebih besar, mengembangkan lebih banyak usaha, akan lebih mungkin berhasil dalam mencapai tujuan mereka sebagai hasilnya. Seseorang dengan pemahaman diri yang buruk tentang kemantapan sosial mungkin tidak akan menerima promosi di tempat kerja karena kelak akan melibatkan membacakan banyak pidato dan harus bernegosiasi dengan orang terkemuka.
Meskipun persepsi kita tentang pemahaman
diri kita didapatkan dari apa yang orang lain bicarakan tentang kita, dari
pengalaman langsung tentang keberhasilan dan kegagalan, dan dari sumber-sumber
yang lain, koginisi ini terus mempengaruhi perilaku kita “dari dalam ke luar”.
Bandura juga menekankan pentingnya nilai dan
standar pribadi dalam kepribadian. Kita belajar standar pribadi untuk perilaku
kita dari mengamati standar pribadi yang dibuat oleh orang lain. Kita juga
belajar standar pribadi kita dari standar orang lain yang digunakan ketika
memberikan penghargaan atau hukuman pada kita. Ketika kita mengadopsi standar
mereka untuk diri kita sendiri dan menggunakannya untuk mengevaluasi perilaku
kita sendiri, kita dapat menggembangkan self-regulation
yang disebutkan Bandura.
Ketika kita
berperilaku dengan cara yang memenuhi standar pribadi kita, kita secara
kognitif (menepuk-nepuk punggung kita sendiri) menumpas kekuatan kita sendiri.
Pada umumnya, kita sebenarnya tidak akan mengatakan kepada diri kita “kerja
yang bagus!” tetapi seperti, kita merasakan mampu menumpas kekuatan kita
sendiri dengan rasa bangga dan senang ketika kita telah memenuhi nilai standar
kita sendiri. Sebaliknya, kita menghukum diri sendiri ketika kita gagal untuk
memenuhi nilai standar pribadi kita sendiri. Dengan cara ini, proses
menumpaskan kekuatan kita sendiri mirip tujuannya sebagai superegonya Freud.
·
Situationism dan Interactionism
B.F Skinner memperdebatkan bahwa
perilaku ditentukan oleh situasi dimana orang orang menemukan jati dirinya
sendiri, bukan sifat di dalam orang itu. Sudut pandang ini dikenal sebagai situationism, menunjukkan bahwa
perilaku kita hanya konsisten selama situasi kita tetap konsisten. Seorang
wanita mungkin akan lebih ramah pada waktu dia bersama keluarganya, tetapi dia
akan bersikap dingin dan tidak ramah
ketika dia bersama dengan teman gosipnya, dan kaku ketika bersama
bosnya. Menurut Skinner, orang orang berperilaku sesuai dengan lingkungannya,
dan─karena situasi cenderung berubah─perilaku tidak bisa konsisten untuk cukup
mampu dijelaskan dalam sifat-sifat kepribadian.
Teori social learning
menyarankan perbandingan yang konstruktif diantara sifat dan posisi
situationism. Solusinya, dikenal sebagai person × situation interactionism, menunjukkan
bahwa tingkah laku kita dipengaruhi oleh kombinasi dari karakteristik seseorang
dan situasinya. Sebagai contoh, seseorang mungkin relatif tenang dan rileks
saat tidak tertekan dan frustasi. Jika orang ini dihadapi oleh
situasi stres, meskipun, seperti
wawancara untuk pekerjaan baru setelah diberhentikan, dia akan bereaksi dengan
kecemasan dan lekas marah. Pada orang lain, sebaliknya, mungkin tenang dan
santai dalam situasi stres maupun tidak stres. Konsep person × situation
interactionism berarti bahwa orang yang berbeda bereaksi terhadap situasi yang
sama secara berbeda. Dan itu juga berarti bahwa orang yang sama sering
berperilaku berbeda di situasi yang berbeda.
Poin penting dari
interaksi: satu-satunya cara untuk mendeskripsikan kepribadian orang dalam
pernyataan “Jika…maka”. “Jika dia merasa disukai seseorang, maka dia akan
merasa senang. Jika dia berfikir bahwa orang orang tidak menyukai dia, maka dia
akan muram dan tidak bahagia.”. Pernyataan “Jika…maka” ini membuktikan bisa
mendeskripsikan kepribadian kita yang memungkinkan untuk memprediksi perilaku
selanjutnya dalam berbagai situasi. Memahami mengapa orang berperilaku dalam
situasi yang berbeda dalam berbagai cara mereka lakukan, meskipun, membutuhkan
analisis lebih dalam lagi. Untuk teori social learning, untuk variabel orang
pada person × situation interaction adalah kognisi (kepercayaan), motivasi
(tujuan), dan kecenderungan emosional yang telah kita peroleh melalui social
learning dan menentukan
bagaimana kita menanggapi situasi yang berbeda.
Person x situation
interaction bahkan lebih rumit daripada pertama kalinya muncul. Ini dikarenakan
orang-orang berperan aktif dalam memilih dan bahkan membuat situasi yang mereka
alami. Contohnya, seorang yang sangat pemalu akan menghindari situasi sosial
dengan orang lain, dimana orang yang lebih agresif akan mencari situasi yang
menantang dan bahkan mungkin memancing perseteruan dengan orang lain. Demikian,
situasi yang berinteraksi dengan karakteristik kepribadian kita tidak hanya
akan terjadi pada kita secara acak; kita memainkan peran penting dalam memilih dan
membuat banyak situasi dimana kita hidup.
4.
Teori Sifat
Allport
Gordon Allport (1937, 1961) percaya bahwa sifat yang
paling penting adalah yang terkait dengan nilai-nilai kita. Allport mengatakan
kepada kita bahwa cara terbaik untuk memahami orang lain dan memperkirakan
bahwa mereka akan berperilaku di masa depan adalah dengan mencari tahu apa yang
mereka hargai—hal-hal yang ingin dicapai.
Allport
(1961) percaya bahwa sifat-sifat dapat
digolongkan dalam kepentingan mereka sebagai kardinal, sentral, atau sekunder.
Sifat kardinal
adalah mereka yang mendominasi kehidupan seseorang. Pencarian pengetahuan bisa
dikatakan sebagai salah satu sifat yang mendominasi kehidupan Albert Einstein,
sedangkan keinginan untuk keadilan sosial mendominasi perilaku Mahatma Gandhi.
Allport percaya bahwa relatif sedikit orang yang memiliki sifat kardinal
seperti itu. Jauh lebih umum, bagaimanapun, adalah sifat sentral. Ini juga adalah sifat penting yang mempengaruhi dan
mengatur banyak perilaku kita, tetapi tidak sampai pada sifat-sifat kardinal.
Sebagai contoh, perilaku seseorang mungkin sebagian besar ditujukan untuk
memperoleh keintiman dan kepuasan seksual. Namun, orang lain mungkin relatif
tidak tertarik dengan keintiman tetapi mungkin sangat menginginkan kekuatan dan
kehormatan. Sifat sekunder jauh
lebih spesifik) dan sangat kurang
penting untuk deskripsi yang komprehensif tentang kepribadian seseorang.
·
Model
Kepribadian Lima Faktor
Selama
bertahun-tahun, banyak model sifat seperti Gordon Allport telah diusulkan,
masing-masing menyatakan bahwa sifat-sifat yang berbeda paling menggambarkan
kepribadian kita. Tak satupun dari model kepribadian itu diterima secara luas.
Saat ini ada konsensus yang cukup besar diantara para ahli teori tentang
gambaran lengkap kepribadian kita. Yang disebut kepribadian lima. Tes
kepribadian telah dikembangkan untuk mengukur 5 sifat ini. Tujuannya untuk
menggunakan informasi yang diberikan untuk orang yang mengikuti tes. Misalnya
orang mengungkapkan dirinya sebagai orang yang khawatir, gugup, tegang akan
dianggap tinggi pada neurotisme. Kelima kepribadian kita ini dipengaruhi oleh
warisan dan pengalaman kita.
Tidak
hanya manusia sebagai satu-satunya yang memiliki kepribadian, hewan juga
memilikinya. Sejak zaman Pavlov, telah ada bukti jelas bahwa mamalia memiliki
ciri-ciri kepribadian seperti manusia. Dan ada bukti baru bahwa model
lima-faktor menggambarkan kepribadian anjing dan mamalia non manusia dengan
baik.
·
Pentingnya
Kepribadian
Kepribadian
ini bermanfaat untuk membuat kita mengerti aspek penting dari kehidupan
masyarakat. Sejumlah penelitian sekarang memperjelas bahwa ciri-ciri
kepribadian kita secara substansial terkait dengan kesejahteraan fisik kita.
Secara khusus, orang-orang yang sangat tinggi dalam neurotisme cenderung tidak
bahagia dan memiliki resiko tinggi terkena penyakit jantung, darah tinggi,
stres bahkan diperkirakan memiliki umur lebih pendek dibanding yang memiliki
kesadaran diri. Hipotesis menunjukkan neurotisme berhubungan dengan kesehatan
mental dan kesehatan fisik karena:
Ø Orang
yang tinggi di neurotisme sensitif terhadap stres dan menunjukkan reaktivitas
lebih besar dari sistem saraf simpatik dan kelenjar endokrin ketika stres, yang
sangat mempengaruhi kesehatan. Orang dengan neurotisme tinggi juga biasanya
tertutup sehingga mengurangi dukungan sosial yang diperlukan untuk menahan
stres.
Ø Neurotisme
dan fisik dan kesehatan mental rentan dipengaruhi oleh beberapa faktor genetik
yang sama.
Namun, sifat kepribadian dikaitkan dengan lebih dari
sekadar kesehatan fisik dan mental. Misalnya seseorang yang ramah, terbuka
lebih banyak mendapatkan sesuatu di sekolah. Memang ketika nilai-nilai SMA
dikendalikan secara statistik, sikap adalah prediktor kuat dari nilai perguruan
tinggi seperti kecerdasan. Sebab itu variasi dalam sifat-sifat kepribadian
sangat penting terkait dengan banyak aspek kunci dalam kehidupan kita.
membantu mengingat materi kembali. terinakasih.
BalasHapusSangat membantu lanjut terus
BalasHapusBisa jadi bahan belajar untuk ujian nih
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusMantaap
BalasHapus